1 / 22

PEMASARAN

PEMASARAN. PUJI WALUYO 10 010 009. 1. Marjin tataniaga dapat didefinisikan dengan 2 cara yaitu :.

alia
Download Presentation

PEMASARAN

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. PEMASARAN PUJI WALUYO 10 010 009

  2. 1 Marjintataniagadapatdidefinisikandengan 2 carayaitu: • Marjintataniagamerupakanperbedaanantaraharga yang dibayarkankonsumendenganharga yang diterimapetani. Daly (1958) diterangkanlebihlanjutoleh Friedman (1962) dalamSudiyono (2002). • Menurut Waite & Trelogan (1951) dalamSudiyono (2002). Marjintataniagamerupakanbiayadari jasa2 pemasaran / tataniaga yang dibutuhkansebagaiakibatpermintaan & penawarandari jasa2tataniaga.

  3. 2 Komponenmarjinpemasaraniniterdiridari: • Biaya2 yang diperlukan lembaga2 tataniagauntukmelakukan fungsi2 tataniaga yang disebutbiayatataniagaataubiayafungsional (functional cost). • Keuntungan (pootet) lembagatataniaga.

  4. Apabiladalampemasaransuatuprodukpertanianterdapatlembaga tataniaga yang melakukan fungsi2tataniaga, makamarjintataniaga secaramatematisdapatditulissebagai: M = ∑ ∑ Cij+ ∑ πj m m n-1 j-1 Dimana: M = Marjinaltataniaga Cij= Biayatataniagauntukmelaksanakan fungsi2tataniagakeioleh lembagatataniagake j πj = Keuntungan yang diperolehlembagatataniagake j m = Jumlahjenisbiayapemasaran n = Jumlahlembagatataniaga

  5. Denganmenggunakandefinisipertama yang menyebutkanbahwa marjintataniagamerupakanperbedaanantaraharga yang dibayarkan konsumendenganharga yang diterimapetani, makalebihlanjutdapat dianalisasbb: harga yang dibayarkankonsumenmerupakanharga ditingkatpengecer, yaituperpotonganantarakurvapermintaan primer (primary demand curve). Dengankurvapenawaranturunan (derived supply curve). Sedangkanhargaditingkatpetanimerupakanpotonganantarakurva permintaanturunan (derived demand curve) dengankurvapenawaran primer (primary supplay curve).

  6. Permintaansuatuprodukditingkatpetanidisebutpermintaanturunan Sebabpermintaaniniditurunkandaripermintaankonsumenditingkat pengecer. Contoh: pabrikminyakkelapa, yang dimaksudpermintaan primer Adalahsemuapermintaanminyak kelapaolehseluruhkonsumen. Sedangkanpermintaanturunandalamkasusiniadalahpermintaan kelapaolehpabrikminyak. Cramer & Jensen (1979) secarasederhanamenghubungkanantara kurvapermintaan primer dankurvaturunansbb:

  7. Rp/unit Pr A { KurvaPermintaan Primer M0 Pf B Harga Konsumen Harga tk Petani C Pr’ { M1 Pf’ D KurvaPermintaanTurunan 0 Q0 Q1 Jumlah Q

  8. Padajumlahbarangsebanyak Q0, makahargaditingkatpengecersebesar PrdanhargaditingkatpetanisebesarPf. Padajumlah inimarjinpemasaransebesar: Apabilajumlahbarang yang ditransaksikansebanyak Q1 makahargaditingkatpengecersebesarPr’ danhargaditingkatpetanisebesarPfl’PadajumlahinimarjinpemasaransebesarselisihhargaditingkatpengecerPr’denganhargaditingkatpetanisebesarPf’Padajumlahkomoditi yang ditransaksikansebesarini, makamarjinpemasaransebesar: M0 = A – B = Pr - Pf

  9. LANJUTAN…!!! M1 = C – D = Pr’ – Pf’ Ada 3 hubunganantarabesarmarjinpemasarandenganjumlahbarang yang diminta, yaitu: 1. Apabilajumlahbarang yang dimintabertambahdanmarjinpemasaranbertambah(M1>M0), makadisebutMarjinpemasaranbertambah.

  10. Rp/Unit Pr A { M0 Kurva Permintaan Primer B Pf C Pr’ { M1 Kurva Permintaan Turunan D Pf’ 0 Q0 Q1 Jumlah Q

  11. Rp/Unit 2.Apabila jumlah barang yang diminta bertambah dan marjin pemasaran konstan / tetap (M1 = M0) maka disebut Marjin Pemasaran konstan / tetap. A Pr { Kurva Permintaan Primer M0 B Pf Pr’ Kurva Permintaan Turunan { M1 Pf’ 0 Q1 Jumlah Q Q0

  12. 3.Apabila jumlah barang yang diminta bertambah dan marjin pemasarn berkurang (M1 < M0) maka disebut marjin pemasaran berkurang. Rp/Unit A Pr Kurva Permintaan Primer { M0 B Pf Kurva Permintaan Turunan Pr’ C { M1 Pf’ D 0 Jumlah Q Q1 Q0

  13. Pada sisi penawaran, kita jumpai kurva penawaran primer (primary supplay curve) dan kurva penawaran turunan (derived supplay curve). • Penawaran primer adalah penawaran komoditi pertanian di tingkat petani. Penawaran primer ini biasanya berupa penawaran bahan mentah atau pun bahan baku. • Penawaran turunan adalah penawaran di tingkat pengecer. Kurva turunan ini merupakan penjumlahan kurva penawaran primer dengan marjin pemasaran. Contoh: Pabrik sirup jeruk, maka penawaran primer adalah penawaran buah jeruk di tingkat usaha tani / petani. Sedangkan penawaran turunan adalah penawaran sirup jeruk oleh pabrik pengolah sirup jeruk tersebut. • Cramer & Jensen (1979) secara sederhana menggambarkan hubungan penawaran di tingkat petani & pengecer sbb:

  14. Rp/Unit H Pr’ { Kurva Penawaran Turunan M1 I Pf’ Pr F Kurva Penawaran Primer { M0 Pf G Q Q0 Q1 Jumlah Q

  15. Jumlah penawaran barang sebesar Qp, maka harga di tingkat pengecer sebesar Pr dan harga di tingkat petani sebesar Pf. Pada jumlah ini marjin pemasaran sebesar: M0 = Pr – Pf = F – G • Apabila jumlah barang yang ditawarkan bertambah menjadi Q1, maka harga di tingkat pengecer sebesar Pr’ dan harga di tingkat petani sebesar Pf’. Sehingga pada jumlah ini marjin pemasaran sebesar: M1 = Pr’ – Pf’ = H – I

  16. Seperti halnya pada permintaan, maka pada penawaran pun terdapat 3 hubungan antara besar marjin pemasaran dengan jumlah penawaran, yaitu: • Apabila jumlah barang yang ditawarkan bertambah dan marjin pemasaran bertambah (M1>M0) maka disebut marjin pemasaran bertambah. • Apabila jumlah barang yang ditawarkan bertambah dan marjin pemasaran konstan (M1=M0), maka disebut hubungan marjin pemasaran konstan. • Apabila jumlah barang yang ditawarkan bertambah dan marjin pemasaran berkurang (M1<M0) maka disebut hubungan marjin pemasaran berkurang.

  17. Pada analisis pemasaran komoditi pertanian dipertimbangkan pada sisi penawaran & permintaan ini secara simultan, sehingga terbentuk harga di tingkat pengecer & harga di tingkat produsen. Dengan demikian marjin pemasaran dapat disusun oleh kurva penawaran permintaan sbb: Rp/Unit Kurva Penawaran Turunan Kurva Penawaran Primer A Pr { Kurva Permintaan Primer M Pf B Kurva Permintaan Turunan Q* Jumlah Q

  18. Kurva permintaan primer yang berpotongan dengan kurva penawaran turunan, membentuk harga di tingkat pengecer Pr. • Kurva permintaan turunan yang berpotongan dengan kurva penawaran primer, membentuk harga di tingkat petani Pf. • Marjin pemasaran sama dengan selisih harga di tingkat pengecer dengan harga di tingkat petani (M = Pr -Pf). • Perlu diperhatikan, penentuan marjin pemasaran cara ini harus dipenuhi asumsi bahwa jumlah produk yang ditransaksi di tingkat petani sama dengan jumlah produk yang ditransaksikan di tingkat pengecer, yaitu sebesar Q*. • Nilai marjin pemasaran (VM) yang dinikmati oleh lembaga2 pemasaran yang terlibat dalam pemasaran komoditi pertanian ini merupakan hasil kali antara perbedaan harga ditingkat pengecer dengan harga di tingkat petani dengan jumlah barang yang ditransaksikan.

  19. Secara matematis nilai marjin pemasaran dapat ditulis:VM = (Pr - Pf) . Q* Dimana: VM = Nilai Marjin Pemasaran Pr = Harga di tingkat pengecer Pf = Harga di tingkat petani Q* = Jumlah barang yang ditransaksikan • Nilai marjin pemasaran pada pemasaran sama dengan luas segi empat Pr Pf BA. Nilai marjin ini di distribusikan diantara lembaga2 pemasaran sebagai biaya pemasaran & keuntungan lembaga pemasaran. • Berdasarkan definisi kedua, yaitu marjin pemasaran merupakan biaya dari jasa2 pemasaran, maka membawa konsekuensi yang berbeda dengan analisis sebelumnya.

  20. Jasa2 pemasaran, dalam hal ini sering dikaitkan dengan penambahan utility dari guna bentuk (form utility), guna tempat (place utility), guna waktu (time utility) serta guna pemilikan (possesion utility). • Pada umumnya produk yang berbeda mempunyai marjin pemasaran yang berbeda, hal ini disebabkan tiap produk memerlukan jasa2 pemasaran yang berbeda. • Dasar analisis marjin pemasaran cara ini menggunakan konsep statis komparatif. Waite & Trelogan (1951) secara grafis menganalisis marjin pemasaran sbb: D S2 S1 M2 M1 D 0 Jumlah jasa penawaran/sat. waktu

  21. Pada keadaan mula2 panawaran & permintaan jasa2 pemasaran mengikuti kurva S1 dan D. Pada keadaan ini marjin pemasaran sebesar M1. • Apabila harga input jasa2 pemasaran naik, maka kurva penawaran jasa2 pemasaran mengikuti kurva S2 dan marjin pemasaran sebesar M2. • Berdasarkan grafik diatas dapat disimpulkan bahwa pada kurva penawaran jasa2 penawaran elastis sempurna maka pergeseran kurva permintaan jasa2 pemasaran tidak berpengaruh terhadap marjin pemasaran. • Dalam analisis pemasaran pertanian konsep marjin pemasaran yang ditinjau dari sisi biaya pemasaran ini jarang digunakan.

  22. SEKIAN & TERIMAKASIH SALAM

More Related