1 / 29

Pengantar Bangunan Sipil Pertemuan ke 2

Pengantar Bangunan Sipil Pertemuan ke 2. Bangunan Gedung Bertingkat Rendah. Pertemuan ke 2. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Download Presentation

Pengantar Bangunan Sipil Pertemuan ke 2

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Pengantar Bangunan SipilPertemuan ke 2 Bangunan Gedung Bertingkat Rendah

  2. Pertemuan ke 2 • TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM Setelah mengikuti kuliah Pengantar Bangunan Sipil selama satu semester, mahasiswa diharapkan mampu memahami gambar, menguraikan istilah-istilah dan mengenali detail bangunan sipil serta pengenalan computer software sebagai dasar pengenalan perencanaan, pelaksanaan (pengawasan), pengoperasian dan perawatan bangunan Sipil.. • TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Setelah mempelajari pokok bahasan ini, Mahasiswa akan dapat memahami prinsip dasar perencanaan, dan pengembangan rumah tinggal, dengan sub pokok bahasan: • Pengembangan konsep rumah & Perumahan • Bangunan Perumahan • Pengembangan Rumah • Pengembangan Perumahan • Analisis Teknis Pengembangan Rumah • Pengenalan Software

  3. Bangunan Rumah Tinggal (1) • Rumah Tinggal & Perumahan Fungsi rumah tidak hanya sebagai tempat beristirahat, namun merupakan tempat pengembangan sosial budaya keluarga, dalam mewujudkan keluarga, serta lingkungan yang harmonis. Untuk mencapai hal tersebut, maka perlu adanya suatu usaha perencanaan dan pengembangan yang sistematis agar terbentuk rumah yang sesuai dengan harapan dari sang pemilik. Laporan ini adalah merupakan hasil usaha dari suatu proses perencanaan yang melalui beberapa tahap pengembangan, yang diharapkan dapat mengakomodasi keinginan dari berbagai kepentingan

  4. Bangunan Rumah Tinggal (2) • RUKO (Rumah Toko) • Rumah toko adalah konsep rumah kombinasi tempat usaha keluarga (home industri). Umumnya rumah terdiri dari 2 lantai dengan lantai dasar sebagai unit usaha, dan lantai atas sebagai tempat tinggal. Pengembangan usaha dapat berupa toko kelontong sampai rumah makan. Pengembangan perencanaan toko umumnya disesuaikan usaha yang akan dikembangankan, hal ini dimaksudkan agar sistem dapat mengakomodasi atas beban secara fungsinya • RUKAN (Rumah Kantor)

  5. Bangunan Rumah Tinggal (3) • RUKAN (Rumah Kantor) • Rumah kantor merupakan pengembangan rumah ditambah fungsi kantor untuk disewakan atau digunakan pemilik rumah. Umumnya rumah kantor direncanakan untuk kebutuhan kantor dalam skala kecil, misalnya kantor konsultan, kantor cabang atau perwakilan dagang

  6. Pengembangan Rumah: • Visi & Misi Rumah Tinggal • Tema Rumah • Peruntukan (rumah tinggal, Ruko, Rukan, home industri dll) • Analisis Kebutuhan • Kapasitas (daya tampung ideal 9 m2/org) • Fungsi ruang (R. Tidur, KM/WC, R. Keluarga & Tamu, Dapur, Gudang, R.Usaha, Toko, dll) • Organisasi ruang (plublic area, service area, private area) • Pengembangan Sistem • Sirkulasi udara • Tata cahaya • Traffic • Sanitasi • Security • Estetika • Interior • Eksterior • Landscaping • Pagar

  7. Pengembangan Perumahan • Pengembangan rumah secara berkelompok dan terpadu • dikembangkan secara komersil, terpadu dengan memperhatikan kebutuhan konsumen, • perumahan dapat dikelompokkan dari komplek atau kelompok perumahan sederhana sampai perumahan mewah, didasarkan atas lokasi, spesifikasi bangunan dan fasilitas yang disediakan oleh pengembang, semakin dekat atau cepat akses dengan pusat kota (bisnis) akan semakin tinggi kelas rumah yang dikembangkan atau semakin mahal dikarenakan harga tanah lebih tinggi dibandingkan dipinggiran kota • Pengembangan perumahan umumnya direncanakan memperhatikan rencana tata kota. Hal ini dimaksudkan agar tercapainya fungsi atau tataguna lahan berdasarkan prinsip pengembangan kota modern berbasis lingkungan, ekonomi dan sosial. • Sebagai contoh kota satelit Serpong adalah kota dengan pengembangan perumahan lengkap dengan fasilitas umum, seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, pelayanan masyarakat. Sehingga diharapkan masyarakat dapat melakukan efisiensi kegiatan (menghindari macet dijalan atau karena jauhnya aktifitas kerja dengan rumah)

  8. Contoh Analisis Teknis Pengembangan Rumah Tinggal • Pengembangan Fungsi • Fungsi Ruang, Sebagai rumah tinggal, hal yang pertama adalah kebutuhan luasan dengan memperhatikan kapasitas hunian keluarga yaitu sebesar 9 orang x 9 m2 = 81 m2. Fungsi ruang yang direncanakan meliputi : • 5 Ruang Tidur • Ruang keluarga (+ space untuk Sholat) • 3 Kamar mandi WC • R. Tengah • Ruang Tamu • Ruang makan • Gudang, • Dapur • Gazebo • Struktur organisasi ruang Rumah sebagai tempat tinggal, dengan suasana yang tempat belajar, beribadah serta pengembangan diri, maka perlu direncanakan organisasi ruang. Penentuan struktur organisasi ruang berpengaruh terhadap efektifitas & efisiensi kegiatan. Konsep yang disusun adalah lantai dasar digunakan untuk aktitas pendukung rumah tangga, seperti masak, mencuci, dll. Fungsi koridor digunakan untuk beraktifitas diskusi keluarga sambil sarapan pagi, siang serta malam. fungsi koridor lainnya adalah berinteraksi dengan masyarkat seperti tamu, tetangga diruang tamu atau gazebo. Area pribadi ditempatkan di lantai 2, hal ini untuk menjaga suasana yang kondusiv proses beribadah, belajar dan pengembangan diri bagi keluarga.

  9. Pengembangan Sistem • Sistem Arus Lalulintas Lalulintas bergerakan anggota keluarga dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu dewasa, anak-anak, dan pembantu. Akses masuk rumah direncanakan menggunakan pintu depan dan samping, hal ini untuk memisahkan antara aktifitas dapur dan koridor. Untuk aktifitas dapur melewati pintung samping, dimaksudkan untuk menghindari terganggunya aktivitas tamu serta kegiatan pribadi lainnya. seperti yang terlihat pada Gambar 1 berikut ini.

  10. Menuju R. Tamu R. TENGAH R. TIDUR R. TIDUR Pintu masuk Utama DAPUR R. BELAKANG R. TAMU Menuju ruang Belakang Menuju Lantai atas Gambar 1 Jalur (Lalulintas) Pergerakan Anggota Keluarga JALAN LINGKUNGAN

  11. Sistem Sirkulasi Udara Sistem sirkulasi udara diperlukan untuk menjaga kenyamanan serta kesehatan bagi anggota keluarga. Yaitu dengan memperhatikan kapasitas (volume) ruang yang memadai serta tersirkulasinya udara secara baik melalui jendela, sehingga akan terhindar dari ruangan lembab. Kebutuhan volume udara dapat dihitung sebagai berikut: • Lebar ventilasi satu sisi (A) 1 x 1 = 1 m2, • Kecepatan angin (v) 0,01 km/jam = 10 m/jam Volume udara masuk 1 x 10 = 10 m3/jam = 10.000 ltr/jam, • Kebutuhan udara tiap orang 500 ltr/jam, maka ruang tersebut dapat menampung 10.000/500 = 20 orang • Sementara Kapasitas ruang 9 orang < 20 orang  Kesimpulan nyaman dan layak • Sistem Tata Cahaya • Dengan perbandingan luas jendela dengan luas lantai minimal 1/5, maka dapat diperkirakan luas ideal jendela untuk mendapatkan sinar matahari. • Luas jendela 1 x 1,5 x 4 = 6 m2 . Luas lantai 4 x 5 = 20 m2. Maka perbandingan luasnya adalah 6/20 = 3/10. Maka luas jendela yang ada sangat memadai 1/2 > 3/10 . • Sistem Sanitasi Sistem sanitasi untuk buangan dapur dan kamar mandi dilakukan secara terpisah. Hal ini untuk meminimalkan tercampurnya detergen dengan lemak yang dapat menghambat proses terurainya kotoran. Proses treatment limbah dapur dilakukan system penyaringan melalui bak kontrol, selanjutnya dibuang ke resapan sistem horizontal langsung ke tanah. Untuk pembuangan limbah feaces WC, melalui proses pengolahan septicktank, kemudian dibuang dalam bak resapan sistem horizintal, hal ini dimungkinkan karena jenis tanahnya adalah pasir.

  12. GAMBAR PERSPEKTIF Perpektif Tampak Atas Sisi Timur

  13. Perpektif Tampak Atas Sisi Barat

  14. Susunan Ruangan Lantai Dasar terdiri dari: • 2 Kamar Tidur • 2 kamar mandi/WC • Ruang Tamu • R. Makan/Tengah • Dapur • Gudang • Teras • Gazebo Perspektif 3 Dimensi Lantai Dasar Perspektif 3 Dimensi Lantai Atas • Susunan Ruangan Lantai Atas terdiri dari: • 3 Kamar Tidur • Kamar mandi/WC • R. Keluarga/Kerja • R. Sholat • 3 Teras

  15. Pojok Ruang Tamu Tangga membantu menambah estetika Interior R. Tamu, Dominasi material dapat dipilih motif dominan berbahan kayu,

  16. PERHITUNGAN STRUKTUR • Konstruksi dengan ketentuan sebagai berikut: • Bangunan 2 lantai • Konstruksi Beton bertulang • Mutu beton K-175 • Mutu baja K-36 • Ketebalan plat 12 cm • Dimensi balok 30/60 dengan bentang maksimum 5,0 m Perhitungan diambil nilai-nilai (ukuran) ekstrim, sebagai asumsi untuk keamanan

  17. 3,00 m 5,00 m 12 cm 30/60 3,00 m Pembesian Plat Beton T = 12 cm Perhitungan plat beton diambil bentang antar balok yang terpanjang, hal ini dimaksudkan untukl mendapatkan perhitungan yang maksimum sebagai perhitungan aman Berat pelat 0,12 x 2,4 = 0,288 t/m2 Berat tegel/keramik = 0,112 t/m2 Beban hidup = 0,500 t/m2 Beban plat q = 0,900 t/m2 Mb = 0,065 . q . b2 = 0,065 . 0,9 . 32 = 0,53 tm = Mb/(100 . q2) = 53000/8100 = 6,54 /et = 6,54/1200 = 0,0055 t = 0,0071 (nomogram) CMb = 65 CM1 = 27 CM1b = 63 CM1L = 41 fet = 0,0071 . 1000 . q = 0,0071 . 1000 . 0.9 = 6,3 cm2 10 – 10 = 7,85 cm2 (ok) Pembesian plat beton daerah lain diasumsikan sama, karena luasan lebih kecil dari 3m x 5 m Rekomendasi Pembesian plat Lantai Atas

  18. 10-10 10-20 5,00 m 0,60 m 0,30 m 319 619 619 319 Tul. Lapangan Tul. Tumpuan Pembesian Balok Melintang Dimensi 30/60 Berat balok 0,3 x 0,6 x 2,4 = 0,432 t/m1 Berat lantai & muatan 3,0 x 0,9 = 2,70 t/m1 Beban balok q = 3,132 t/m1  3,35 t/m1 M = 1/11 . ( q . L2) = 1/11 x 3,35 x 52 = 8,375 tm = 837500 / (28 x 502) = 11,9 kg/cm2 > 0 Tulangan rangkap /et = 11,9 /1200 = 0,00997  a’/h = 5/55 = 0,09  po= 24 d = 0,0055 (nomogram) Tulangan Tumpuan bawah/lapangan atas fed = 0,0055 x 28 x 55 = 8,47 cm2 < 319 = 8.50 cm2 (ok) t = 0,0105 (nomogram) Tulangan Lapangan bawah/tumpuan atas fet = 0,0105 x 28 x 55 = 16,17 cm2 < 619 = 17.01 cm2 (ok) Pembesian balok beton daerah lain diasumsikan sama, karena panjang bentang balok lainnya lebih kecil dari 5 m

  19. Pembesian Kolom 20/40 10 - 15 Angin W1 319 30 cm W2 3,2 m 50 cm 4,0 m Tekanan angin pada atap W1 = 3,2 x 2,5x 50 = 400 kg Tekanan angin pada dinding W2 = 3,2 x 5 x 50 = 800 kg Momen karena angin MW1 = 400 X 5 = 2000 kgm MW2 = 800 X 2,6 = 2080 kgm 4080 kgm MW  4200 kgm • Beban lantai atas • Berat atap 3,2 x ½ x 5,5 x 0,150 = 1,320 t • Balok atap 0,3 x 0,3 x 2,4 x 3,2 = 0,692 t • Pas ½ batu 5,25 x 0,15 x 2 x 3,2 = 5,040 t • P = 7,062 t • P 7,5 t Exsentrisitas C = M/P = 420.000/7.500 = 56 cm Mt = P x Ct = 7,5 x 56 = 420 t.cm t = Mt/(b.h2) = 420.000/(18x352) =7,407 kg/cm2 /bt = 7,4 /50 = 0,148  p = 20 a’/h = 5/45 = 0,11 t = 0,004 (nomogram) Tulangan pokok fet = 0,004 . 28 . 45 = 5,04 cm2 319 = 8,5 cm2 (ok) Rekomendasi penulangan kolom

  20. 20 cm 26 cm 18.8 cm 10 cm Pembesian Tangga Berat pelat dan optred 0,2 x 2,4 = 0,480 t/m2 Berat tegel (keramik) untuk optredc + antrede = 0,150 t/m2 Muatan berguna = 0,420 t/m2 q = 1,050 t/m2 M = 1/11 (q x L2) = 1/11 . 1,050 x 2,52 0,60 t.m  = 60.000/(100x82) = 9,4 kg/cm2 /bd = 9,4 /50 = 0,188 t = 0,0116 (nomogram) Tulangan memanjang fet = 0,0116 . 100 . 8 = 9,28 cm2 < 12 – 12 = 10,27 cm2 (ok) Tul Melintang 8 – 15 = 3,59 cm2 > 20% x 9,28 cm2 = 1,85 cm2 (ok)

  21. 12 - 12 8 - 15 Rekomendasi penulangan tangga Keterangan: Perhitungan ini dikerjakan dengan bantuan Nomogram beton bertulang oleh Prof Ir. R. Soemono (ITB Bandung)

  22. PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN TEGAL TURI INDAH

  23. Denah Perumahan

  24. Perspektif Tipe 45/95 RANGKA ATAP

  25. Pojok Ruang Tamu & Dapur (Tipe 45) RUANG TAMU POJOK DAPUR

  26. Perspektif Tipe 54/95 RANGKA ATAP

  27. Pojok Ruang Tamu & Dapur (Tipe 54) RUANG TAMU POJOK DAPUR

  28. Spesifikasi Bangunan

  29. Refferensi: • Anonim, 1971, Peraturan Beton Bertulang Indonesia PBI 71, Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta • Anonim, 1985, Contoh Perhitungan Struktur Tahan Gempa Sesuai dengan Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk Gedung, Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta • Harsoyo, 1998, Gedung bertingkat Satu (Konstruksi Beton Bertulang), Penerbit Sugihardjo, Yogyakarta

More Related